Pertemuan Minggu Keempat PKn - 8 Fakta Ibu Bunuh Anak Kandung di Brebes, Suami Menganggur, Depresi hingga Ingin Selamatkan Anak
Assalamu'alaikum Wr, Wb
Nama : Putri Nabila Fachrennisa
Kelas / NIM : 2B / 11210541000078
Prodi : Kesejahteraan Sosial
Mata Kuliah : PKn
Dosen Pengampu : Drs. Study Rizal, LK., MA
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8 Fakta Ibu Bunuh Anak Kandung di Brebes, Suami Menganggur, Depresi hingga Ingin Selamatkan Anak
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2022/03/22/074819365/8-fakta-ibu-bunuh-anak-kandung-di-brebes-suami-menganggur-depresi-hingga?page=all
Penulis: Diva Lufiana Putri | Editor: Rizal Setyo Nugraha
Kompas.com - 22/03/2022, 07:48 WIB
Bismillahirrahmanirrahiiim...
Halo teman-teman! Di minggu keempat pertemuan catatan blog ini saya hadir kembali menyapa teman-teman dan menguraikan tanggapan saya terhadap pemberitaan yang disajikan media online yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial.
Berikut ini adalah penjelasan singkat dari berita tersebut serta tanggapan saya atas berita, "8 Fakta Ibu Bunuh Anak Kandung di Brebes, Suami Menganggur, Depresi hingga Ingin Selamatkan Anak".
Kasus seorang ibu yang membunuh anaknya di Brebes, Jawa Tengah mengundang keprihatinan masyarakat. Kasus tersebut terjadi di Dukuh Sokawera, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Minggu (20/03/2022) pagi.
Pelaku berinisial KU (35) diduga menganiaya tiga anaknya hingga salah satunya meninggal dunia. Sementara, dua anak lainnya berhasil selamat dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Berikut fakta-fakta kasus ibu bunuh anak kandung di Brebes, sebagaimana dihimpun oleh Kompas.com:
"Saya dobrak pintu dan saya lihat ARK sudah tergeletak di lantai. Anak-anak yang lain mengunci diri dalam kamar," tutur Iwan (55), tetangga pelaku.
"Setelah mencekik, warga lainnya membantu melepaskan. Saat berhasil lepas, pelaku langsung lari ke jalan yang agak lebih besar," tutur Iwan. Sembari berusaha menangkap pelaku, warga lain pun bergegas menyelamatkan anak-anak KU.
"Karena pada saat kejadian saya termasuk yang menolong, saya melihat ada pisau kater di TKP," ungkap Iwan.
Sementara itu, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Brebes Syuaib Abdullah mengatakan, hasil visum dari ARK menunjukkan luka sayatan benda tajam sepanjang 12 sentimeter dan sedalam lima sentimeter. Dugaan Satreskrim Polres Brebes, luka sayatan itulah yang menyebabkan korban kehabisan darah dan meninggal dunia.
"Saya enggak gila, dari kecil sudah dikurung. Saya ingin disayang sama suami," akui pelaku.
KU pun melanjutkan dengan raut wajah sedih, dirinya bingung jika suaminya yang merantau habis kontrak pekerjaan dan menganggur lagi.
"Tapi suami saya sering menganggur. Saya tidak sanggup kalau kontraknya (pekerjaan) habis nganggur lagi. Demi menyelamatkan anak-anak biar tidak ikut susah," cerita pelaku.
"Saya cuma mau tobat, sebelum saya mati. Saya cuma mau menyelamatkan anak-anak biar enggak dibentak-bentak," ungkapnya dalam video.
Namun, saat ditanya bagaimana cara menyelamatkan buah hatinya, pelaku menjawab, "Mendingan mati saja. Nggak perlu ngerasain sedih. Harus mati biar nggak sakit."
"Kayak saya dari kecil. Tidak ada yang tahu saya memendam puluhan tahun," tutur pelaku dengan raut wajah sedih.
Menanggapi isi berita di atas, saya turut prihatin atas peristiwa yang menimpa keluarga kecil itu. Pada kasus permasalahan yang terjadi di Brebes, menurut saya kita tidak boleh asal menghakimi pelaku tanpa tahu apa penyebab sebenarnya pelaku bertindak seperti itu.
Dan nyatanya kemiskinan yang sudah mengakar itu ternyata mempengaruhi kesehatan jiwa sang pelaku, ibu korban, KU (35). Jika dilihat dari 8 fakta yang diuraikan dari berita tersebut, diasumsikan pelaku mengalami gangguan kejiwaan sehingga mempengaruhinya dalam bersikap dan bertindak.
Dari berita tersebut juga dapat diartikan bahwa kurang berdayanya KU dalam pemenuhan kebutuhan sosialnya, yang mana mungkin saja KU dikucilkan oleh para tetangganya sehingga ia tidak dapat mengatakan bahwa sesungguhnya ia membutuhkan bantuan pertolongan sosial.
Dalam kasus ini ada korelasi hubungan antara ilmu kesejahteraan sosial dengan ilmu psikologi. Karena dalam praktiknya seorang sarjanawan kesejahteraan sosial akan berinteraksi dengan individu atau kelompok sebagai klien baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang mana tiap-tiap individu dan kelompok tersebut memiliki latar belakang psikologis yang berbeda-beda.
Menurut Morga, King, Weisz, dan Schopler psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan, di dalamnya termasuk aplikasi ilmu tersebut terhadap masalah yang dihadapi manusia (human problems). Sementara, kesejahteraan sosial menurut Walter Friedlander adalah sistem yang terorganisir dari institusi dan pelayanan sosial yang dirancang untuk membantu individu atau kelompok agar dapat mencapai standar hidup dan kesehatan yang lebih baik.
Kemudian, apa sih arti kemiskinan itu? Dan apa tolak ukur dari kemiskinan itu sendiri?
- Kekurangan materi
- Kekurangan pemenuhan kebutuhan sosial
- Kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai
Dan diperlukan juga pendampingan psikologis bagi pelaku KU, serta dua anak-anak KU yang selamat pada peristiwa itu. Tujuannya agar KU sembuh dari penyakit mental yang dideritanya, dan agar anak-anak KU dapat sembuh dari trauma yang diderita akibat guncangan peristiwa tersebut.
Komentar
Posting Komentar