Langsung ke konten utama

Pertemuan Minggu Kelima Pancasila - Penjualan Kasur Kapuk Terus Turun di Gorontalo

Assalamualaikum, Wr.  Wb

Nama                        : Putri Nabila Fachrennisa

NIM / Kelas             : 11210541000078 / 1B

Prodi                        : Kesejahteraan Sosial

Mata Kuliah            : Pancasila

Dosen Pengampu    : Drs. Study Rizal, LK., M.Ag

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Penjualan Kasur Kapuk Terus Turun di Gorontalo


Reporter: Antara/ Red: Christiyaningsih

Senin, 27 September 2021 | 14:57 WIB


Bismillahirrahmanirrahim,

Salam Pancasila! 
Di pertemuan minggu kelima pada blog ini bertepatan dengan peringatan hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 01 Oktober. Sejarah mencatat bahwa eksistensi Pancasila sebagai ideologi dasar negara bangsa Indonesia pernah terancam karena ulah sejumlah aktivis Komunis yang menginginkan ideologi bangsa diganti berdasarkan ideologi komunis.

Demikian, kita sebagai penduduk warga negara Indonesia harus menjungjung tinggi Pancasila, dan menjaga nilai-nilai instrumental yang terkandung dalam sila-sila Pancasila itu sendiri. Supaya tidak terjadi lagi peristiwa serupa dan supaya tatanan hidup sosial warga masyarakat Indonesia bisa teratur sesuai peraturan perundang-undangan.

Back to the topic, minggu ini Saya akan menanggapi pemberitaan online dengan tema, masalah perekonomian daerah yang tidak berkembang pada era kepemimpinan Presiden Jokowi 2. Topik berita yang saya ambil sesuai dengan judul berita di atas, yaitu "Penjualan Kasur Kapuk Terus Turun di Gorontalo."

Pada kepemimpinan Presiden Jokowi di periode yang kedua, terjadi fenomena penularan penyakit yang mewabah di penjuru dunia, yakni Virus Korona atau bisa juga disebut COVID-19.  

Adanya COVID-19 memberikan dampak yang sangat besar pada aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Peraturan yang membatasi mobilitas sosial membuat seluruh kegiatan perekonomian mengalami penurunan yang sangat besar. Salah satu yang terkena dampaknya adalah pengrajin lokal kasur kapuk di Donggala, Kota Gorontalo.

Penjualan kasur kapuk di Kota Gorontalo, tepatnya adalah Donggala terus mengalami penurunan seiring pada masa pandemi COVID-19. Salah seorang pengrajin kasur kapuk, Kadir Umar, mengatakan jika sebelumnya dapat menjual dua hingga tiga kasur dalam satu pekan, kini menjual satu kasur saja sangat sulit setiap pekannya.

Berbagai usaha untuk menjualkan hasil tangannya telah dilakukan, mulai dari berjualan dengan keliling sepeda, motor, hingga becak motor (bentor), Kadir juga mengungkapkan bahwa mereka para pengrajin kasur kapuk membawa dagangan kasurnya sampai ke Kabupaten Donggala dan Kabupaten Bone Bolango supaya peluang yang membeli semakin besar. 

Penjualan kasur yang menurun menyebabkan berkurang juga pendapatan yang dihasilkan para pengrajin, sementara bahan baku kapuk terus naik. Banyak sekali pengrajin usaha yang telah  berproduksi puluhan tahun terancam gulung tikar. Mereka mengharapkan uluran tangan dari pemerintah maupun komunitas setempat untuk memberikan bantuan modal, supaya mereka dapat terus berjualan untuk memenuhi ekonomi hidup keluarga. 

Pernyataan dari Saya terhadap isi pemberitaan di atas adalah sudah sepatutnya pemerintah selaku pemegang kebijakan ekonomi nasional harus dapat lebih tanggap lagi terhadap pemulihan kembali perekonomi di daerah-daerah pedalaman, tidak hanya memusatkan perhatiannya di kota-kota besar saja. Supaya pengrajin usaha kecil dan menengah di satuan kota atau kabupaten kecil pertumbuhan ekonominya dapat meningkat kembali.

Biasanya mereka yang bergerak di kegiatan ekonomi tradisional kurang mempunya modal yang cukup untuk menggerakkan usahanya, ditambah lagi dengan adanya kondisi pandemi yang hilalnya tidak kunjung usai semakin memperkeruh perekonomian rakyat. Oleh karena itu, solusi untuk permasalahan ini adalah dukungan dari pemerintah untuk para pelaku pengrajin tradisional di seluruh wilayah dengan mengeluarkan kebijakan layanan bantuan sosial (social service) berupa subsidi modal.

Dan yang paling penting untuk diperhatikan adalah jika program pemberian modal bantuan ini nantinya akan terealisasi pun perlu ditinjau dengan hati-hati dan teliti kembali perihal proses pembagiannya. Apakah bantuan modal yang dibagikan tepat sasaran, apakah nominal bantuan modal yang diberikan telah sesuai, artinya bersih dari campur tangan pencuri uang rakyat, dan sebagainya. Sebab pada kondisi yang sedang menyulitkan saat ini pun masih ada saja manusia-manusia tidak tahu malu berani mencuri uang ataupun aset negara yang mana akan dipakai untuk mensejahterakan ekonomi rakyatnya.  

Dengan demikian, semoga pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah setempat dapat merealisasikan bantuan modal usaha tidak hanya kepada pengrajin kasur kapuk, tetapi juga kepada seluruh pelaku usaha kecil dan menengah. Serta bantuan modal yang dibagikan sesuai dengan tepat sasaran sehingga para pengrajin usaha tradisional dapat melanjutkan kembali usahanya tanpa takut akan mengalami bangkrut.




Komentar